Bisnis

Bisnis


Ini sebenarnya BISNIS Apa?

Jika Anda adalah seorang Mahasiswa, Karyawan, ataupun Ibu Rumah Tangga, maka tak ada salahnya jika tergelitik dalam benak munculnya keinginan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

  • Sebagai Mahasiswa, tentunya akan sangat menyenangkan jika kita bisa memiliki penghasilan sendiri tanpa harus merengek dan bergantung terus pada orangtua.
  • Bagi Karyawan, memiliki usaha sampingan jelas merupakan nilai tambah tersendiri.
  • Terakhir untuk Anda Para Ibu Rumah Tangga, alangkah membanggakan apabila kita pun punya penghasilan sendiri tanpa harus terus meminta pada suami dan syukur-syukur bisa membantu perekonomian rumah tangga.
  • Jika Anda adalah seorang Profesional atau mungkin Pengusaha yang tengah menekuni Bisnis Anda  yang sedang berjalan, TRADING layak dijadikan Bisnis ke-dua. Nanti Anda akan melihat di chapter khusus mengenai nilai plus dari Bisnis Trading ini.

Atau mungkin Anda sudah tak sabar ingin serius menjadi FOREX TRADER? Program Pelatihan dan Pembelajaran Forex Online Trading ini bisa membantu Anda mempersiapkan diri secara pasti.

Semua orang pasti membutuhkan uang tetapi cara memperolehnya berbeda-beda. Singkatnya, terdapat dua cara yang dapat kita tempuh untuk mendapatkan uang yaitu:

1. Kita bekerja untuk uang

Hal ini telah banyak dilakukan dan dijalani oleh kebanyakan orang-orang dengan bermacam tingkatan profesi. Presiden, pegawai, dokter, hingga kuli panggul. Tujuan dari semua macam kegiatan itu hanya satu yaitu mendapatkan bayaran atas pekerjaan yang kita lakukan.

Para eksekutif muda dan karyawan umumnya memiliki tingkat kesadaran menabung yang sangat tinggi, dan pertimbangan gaji adalah hal yang teramat penting. Memiliki gaji yang sesuai agar nantinya dapat digunakan sebagai tabungan dan membeli aset-aset tertentu untuk dijadikan usaha kembali adalah hal yang kerap terjadi di tengah pola pikir masyarakat kita.

2. Uang bekerja untuk Anda

“Uang bekerja untuk saya, bagaimana ceritanya, how come?”. Pernyataan tersebut akan segera patah karena selama ini banyak orang yang melakukannya dengan cara :

Uang bisa bekerja untuk kita paling tidak dengan dua cara :

•    Kita menjadi pemilik bisnis di sektor riil, atau
•    Kita memasuki pasar finansial (trading)

Di mulai dari situlah kita menjadi pimpinan sekaligus pemilik atas usaha yang kita rintis. Kita tidak lagi bekerja untuk orang lain karena dengan sendirinya kita dapat “menyuruh” uang kita untuk “bekerja” agar menghasilkan uang tambahan

Bisnis Konvensional adalah bentuk usaha nyata yang bisa kita jumpai  disekitar kita. Semakin besar bentuk usaha yang akan kita jalankan semakin besarlah modal yang kita butuhkan. Tantangnnya adalah jika kita tidak memiliki modal besar apakah akhirnya kita tetap membuka usaha real dengan modal  satu juta, dua juta, tiga juta atau lebih ekstrim lagi kita hanya punya uang raturan ribu saja ? dengan asumsi kebutuhan modal awal dan konsekwensi dari usaha real tersebut seperti berikut ini :

  1. Biaya Rutin (Gaji, Administrasi, Listrik, Sewa Gedung, Pajak dll).
  2. Birokrasi yang rumit (Akte Pedirian SIUP, NPWP dll).
  3. Dapat terkena imbas Krisis Ekonomi.
  4. Karyawan harus selalu dalam pengawasan Anda.
  5. Keuntungan sewaktu-waktu tidak dapat diambil begitu saja.
  6. Bila terjadi kerugian sulit untuk take over.

Menyambung cerita Bisnis Konvensional VS Forex ini saya Analogikan dengan sebuah Cerita Pengusaha Pecel Lele dengan Seorang Trader di kutip dari Forum Forex Education Centre (FEC) di Facebook :

Seorang ‘sodara’ saya yang Pengusaha Sukses Pecel Lele.., berangkat dari jember bermodal Rp.27.000,- ke Jakarta 10 tahun  lalu saat ini berhasil punya 50 cabang Warung Pecel Lele di Jabodetabek dan sering ‘dolan’ ketempat saya suatu saat bertanya.

PPL (Pengusaha Pecel Lele):
“Nganu..pakde.., mau tanya.. kalau mau jadi trader forex itu katanya resikonya sangat besar ‘high risk’..  apa bener begitu ?

PPF(Pengusaha Pecel Forex):
“Hehehehe.. ndak kok mas, resikonya kecil banget..!!

PPL : Lho..? yang saya denger banyak yg rugi..di forex, emangnya sekecil apa resikonya ?

PPF: Nganu..mas, semua investasi finansial itu resiko maksimumnya ya cuma 100% atau sebatas modal yang di investasikan… ndak bisa lebih.. , jadi termasuk kecil sekali dibandingkan resiko di bisnis sektor real..!!

PPL : Lhadalah… 100% kan besar sekaliiii… pakdhe… piye tho..???, itu kan modal habiis..bis..??

PPF: Gini lho mas.., seperti sampeyan.. yang usaha di sektor real.. usaha warung pecel lele.., setiap hari sampeyan sedang berhadapan dengan resiko maksimum yang nggak terbatas pada 100% modal, setiap sampeyan atau anak buah sampeyan menyalakan kompor untuk nggoreng lele.. sampeyan sedang meresikokan..’nyawa’ dan juga keselamatan pelanggan dan tetangga sampeyan.., walaupun sampeyan sudah ikutan asuransi, tetep saja resiko sampeyan jaaauh lebih besar dari sekedar 100% modal sampeyan.. kalau kompor gas sampeyan meledak..dan terjadi kebakaran, apa sampeyan bisa yakin.. dan mampu untuk membatasi kerugian hanya sebatas warung dan modal 100% sampeyan..? apa sampeyan bisa mencegah ‘api’ tidak membakar pelanggan atau rumah tetangga sampeyan..? apa sampeyan mampu ‘mengharuskan’ mobil pemadam kebakaran wajib mangkal 24 jam didepan warung sampeyan ?. heheheheh… itu baru salah satu potensi ‘resiko’ eksternal yg harus dihadapi pengusaha sektor real…

PPL: Weh… iya ya.,? tapi kan jarang terjadi pakdhe..?

PPF: Lho iya, memang jarang terjadi, tapi selalu berpotensi setiap saat, kapanpun itu, sepanjang sampeyan masih berusaha dibisnis real ‘beresiko’ tersebut.. ndak ada batasan aman.., tidak seperti di sektor finansial, yang pada titik tertentu terdapat batasan aman, yang dapat diperhitungkan dari awal.., yaitu saat ‘modal 100%’ sudah kembali, maka investasi di sektor finansial sudah menjadi ’0% resiko’.

Disamping itu, berinvestasi di sektor finansial, sangat mudah diperhitungkan dan diproyeksikan, serta pengembangannya tidak terbatas.., berbeda dengan sektor usaha real…, Sekarang saya tanya.. untuk buka 1 cabang pecel lele sampeyan butuh modal berapa ? dan apa bisa ditentukan dari awal kira-kira profit yg bisa dihasilkan dalam sebulan berapa ?

PPL: Wah.. untuk 1 cabang baru kira-kira butuh modal 40 juta pakdhe.., kalau keuntungannya ya ndak bisa ditentukan, kan tergantung lokasi strategis, saingan, sama tenaga kerjanya juga.. kan nyiapin tenaga yg trampil dan jujur ndak gampang pakdhe..!!

PPF: Ok..kalau gitu saya mau invest ke sampeyan.. untuk 100 cabang baru , sy siapin dananya 4 milyar, kira-kira sanggup tho..? terus share profit cukup 10% saja per bulan.. jadi bulan depan sampeyan transfer balik ke saya 4 milyar modal saya plus 400 juta keuntungannya ..piye siap ?

PPL: Walaaah.. ya ndak sanggup pakdhe.. piye tho.. , bikin 100 cabang itu kan perlu waktu lamaa…lagi pula jelas saya bingung mau buka cabang dimana lagi di jabodetabek ini, dan belum tentu langsung untung di bulan pertama…ngawur ae..sampeyan pakdhe..hehehehe…!!!

PPF: Nah.. ini contoh, bahwa usaha di sektor real itu ada batasan minimal dan maksimal, serta ada jangkauan operasional efektif nya, tidak semudah sektor finansial yang batas maksimalnya tidak ada dan tidak butuh posisi strategis, tidak butuh biaya marketing dan tidak terpengaruh kompetisi,serta tidak memerlukan ‘periode persiapan’ yg lama seperti usaha di sektor real… dan lagi, usaha di sektor finansial seperti ‘forex’ tidak punya ‘base limit’ artinya punya ‘peluang 2 arah’, tidak seperti ‘sektor real’ sampeyan.., ‘produk pecel lele’ sampeyan kalau harganya anjlok, pasti ada ‘batas bawah’ nya, sampeyan tidak mungkin mampu menghadapi saingan yang berani ‘jual rugi’ atau ‘dumping’ untuk mematikan usaha sampeyan, misalkan dengan menjual 1 porsi Rp.1.000,- dan saingan sampeyan punya modal sangat besar dan siap merugi dulu, supaya usaha sampeyan tutup… karena ndak tahan perang harga dan kehabisan modal.. piye jal ?

PPL: Waduuh.. iya juga ya.., kalau pengusaha besar ada yg ‘kejam’ masuk ke sektor usaha kecil jelas saya bisa gulung tikar.., sama kayak warung-warung kecil yang pada bangkrut karena banyak mini market dengan sistem franchise itu ya pakdhe..
Weleh.. jadi mikir nih..

PPF: Lha iya itu mas.. salah satu pola pikir, kenapa di luar sana banyak yang beralih ke sektor finansial..karena memang kalau dibandingkan dengan sektor real.. , sektor finansial itu resikonya sangat terukur dan sangat fleksibel untuk dikembangkan.. jadi bisa saya katakan sekali lagi, resiko disektor finansial itu termasuk yang paling kecil..diantara berbagai jenis usaha didunia ini…wis mudheng mas..??

PPL: Wah.. ho oh.. udah mudheng sekarang.. jadi nganu.. pakdhe.. kalau saya belajar trading forex kira-kira sampeyan mau ngajari saya tho..?? hehehe… mau ya pakdhe…??

PPF: Lha…rak tenan.. ujung-ujungnya… mesti ngono kuwi…hehehehehe…..!! yo wis tuku laptop dhisik..kono..!!

Semoga Cerita ini bisa membuka Wawasan kita Tentang Resiko Bertransaksi di Forex dan lebih berhati hati dalam menyikapi keinginan memulainya